Makalah Meteorologi dan Klimatologi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masalah
lingkungan hidup, bukan masalah yang baru, tetapi sudah ada sejak manusia hidup
di muka bumi. Keberadaan manusia di bumi merupakan faktor penyebab
terjadinya masalah lingkungan hidup.
Pertumbuhan
penduduk yang besar mengakibatkan meningkatnya masalah terhadap lingkungan
hidup. Diusulkan, salah satu upaya untuk mengatasi masalah terhadap lingkungan
hidup adalah dengan cara memberikan pengetahuan tentang lingkungan hidup kepada
siswa sejak pendidikan dasar.
Pertumbuhan populasi manusia yang
cepat, menyebabkan kebutuhan akan pangan, bahan bakar, tempat pemukiman, dan
lain kebutuhan serta limbah domestik juga bertambah dengan cepat. Pertumbuhan
populasi manusia telah mengakibatkan perubahan yang besar dalam lingkungan
hidup.
Permasalahan
lingkungan hidup menjadi besar karena kemajuan teknologi. Akan tetapi yang
harus diingat bahwa teknologi bukan saja dapat merusak lingkungan, melainkan
diperlukan juga untuk mengatasi masalah lingkungan hidup. Contoh: Mesin mobil
yang tidak menggunakan bahan bakar fosil (bensin), tetapi menggunakan gas –
Ingat: Langit Biru.
Pertumbuhan
populasi manusia menyebabkan timbulnya permasalahan lingkungan, seperti:
kerusakan hutan, pencemaran, erosi, dan lain-lain; karena manusia selalu berinteraksi
(inter-related) dengan makhluk hidup lainnya dan benda mati dalam lingkungan.
Ini dilakukan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, dalam upaya
mempertahankan jenis dan keturunannya.
Mempelajari
ekologi sangat penting, karena masa depan kita sangat tergantung pada hubungan
ekologi di seluruh dunia. Meskipun perubahan terjadi di tempat lain di bumi
ini, namun akibatnya akan kita rasakan pada lingkungan di sekitar kita.
Meskipun ekologi adalah cabang dari biologi, namun seorang ahli ekologi harus
menguasai ilmu lain seperti kimia, fisika, dan ilmu komputer. Ekologi juga
berhubungan dengan bidang ilmu-ilmu tertentu seperti geologi, meteorologi, dan
oseanografi, guna mempelajari lingkungan dan hubungannya antara tanah, air, dan
udara. Pendekatan dari berbagai ilmu membantu ahli ekologi untuk memahami
bagaimana lingkungan nonhidup mempengaruhi mahkluk hidup. Hal ini juga bisa
membantu untuk memperkirakan atau meramalkan dampak dari masalah lingkungan
seperti hujan asam atau efek rumah kaca.
Dalam khazanah
ilmu pengetahuan, pengertian tentang lingkungan hidup disebut dengan ekologi
yang berarti ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup
dengan lingkungan. Tulisan di bawah ini akan membahas tentang ekologi agar
dapat dimengerti oleh para pembaca.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pendahuluan diatas, maka kita yang
menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah apa saja yang unsur-unsur yang
ada dalam ekolgi maupun konsep dasar dari ekologi.
1.3.Tujuan
Adapun
tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui unsur-unsur ekologi
yang terdapat di dalam peri kehidupan alam ini.
Selain itu, pembuatan makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Biologi Umum 2.
1.4.Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini adalah agar
pembaca lebih memahami pengertian dari ekologi, maupun unsur-unsur di
dalamekolgi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Ekologi
Ekologi adalah ilmu yang
mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang
lainnya. Berasal dari kata Yunanioikos
("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun
interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi, kita
mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
Pembahasan
ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen
penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik
antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor
biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan
mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi
makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling
mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Ekologi, biologi dan ilmu
kehidupan lainnya saling melengkapi dengan zoologi dan botani yang
menggambarkan hal bahwa ekologi mencoba memperkirakan, dan ekonomi energi yang
menggambarkan kebanyakan rantai makananmanusia dan tingkat
tropik.
2.2. Konsep Dasar Ekologi
Pengelolaan
lingkungan hidup bersifat Antroposentris, artinya perhatian utama dihubungkan
dengan kepentingan manusia. Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan,
dikaitkan dengan peranan tumbuhan atau hewanitu untuk memenuhi kebutuhan hidup
manusia, baik material (bahan makanan) dan non-material (keindahan dan nilai
ilmiah). Dengan demikian kelangsungan hidup manusia dalam lingkungan hidup
sangat ditentukan oleh tumbuhan, hewan, dan unsur tak hidup.
Menurut Odum
(1979) dalam bukunya “Fundamentals of Ecology”, lingkungan hidup didasarkan
beberapa konsep ekologi dasar, seperti konsep: biotik, abiotik, ekosistem,
produktivitas, biomasa, hukum thermodinamika I dan II, siklus biogeokimiawi dan
konsep faktor pembatas. Dalam komunitas ada konsep biodiversitas, pada populasi
ada konsep “carrying capacity”, pada spesies ada konsep distribusi dan
interaksi serta konsep suksesi dan klimaks.
Pembahasan
ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen
penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora abiotik antara lain suhu,
air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk
hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga
berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu
populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu
sistem yang menunjukkan kesatuan.
2.3. Faktor Abiotik
Komponen
abiotik adalah komponen yang tidak hidup dalam ekosistem. Komponen abiotik
dalam ekosistem mencakup faktor-faktor fisik, suhu, cahaya matahari atau
intensitas cahaya, air, tanah, ketinggian, angin, garis lintang, kelembaban,
topografi dan iklim mikro dan dan faktor edafik yang merujuk kepada komposisi
fisika atau kimia dari tanah. Semua faktor-faktor lingkungan ini dalam suatu
ekosistem mempengaruhi kehidupan dan sebaran dari makhluk-makhluk hidup. Nilai
dari pH air dan tanah misalnya misalnya mempengaruhi sebaran dari organisma-organisma.
Dalam hal ini sebahagian bessr organisma hidup pada pH netral ataupun hampir
netral ( pH 6,0-7,5 ). Beberapa tanaman tumbuh baik pada kondisi yang asam
maupun yang basa.
Faktor abiotik adalah faktor tak hidup
yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik utama yang mempengaruhi
ekosistem adalah sebagai berikut :
a. Suhu
Suhu
berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan
organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada
kisaran suhutertentu.
b. Sinar Matahari dan Intensitas cahaya
Sinar matahari
mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar
matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai
produsen untuk berfotosintesis.
c. Air
Air berpengaruh terhadap ekosistem
karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air
diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan
dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya
transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain,
misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.
d. Tanah
d. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi
organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya
juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan
organisme, terutama tumbuhan.
e. Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis
organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan
menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda.
f. Angin
Angin selain berperan dalam menentukan
kelembapan juga berperan dalam penyebaranbijitumbuhantertentu.
g. Garislintang
Garis lintang yang berbeda menunjukkan
kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis lintang secara tak langsung
menyebabkan perbedaan distribusi organisme di permukaan bumi. Ada organisme
yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja.
h. Kelembaban Udara
Kelembaban udara mempengaruhi laju
penguapan atau transpirasi tumbuhan dan laju transportasi air dari hewan-hewan.
Organisme yang dapat mengendalikan laju kehilangan air memiliki sebaran yang
lebih meluas. Organisme seperti katak, bekicot ataupun siput, cacing tanah dan
lumut yang tak dapat mengendalikan kehilangan air adalah lebih sesuai hidup pad
tempat yang lembab.
i. Topografi
Topografi adalah bentuk daripermukaan
bumi. Topografi suatu tempat menentukan suhu, intensitas cahaya dan kelembaban
di tempat tersebut. Tiga faktor topografi yang mempengaruhi sebaran ataupun
distribusi dari organisma-organisma adalah ketinggian, kemiringan dan arah.
Pada ketinggian yang tinggi hanya sedikit organisma yang hidup karena pada
tempat seperti itu suhu, tekanan udara dan kelembaban udara rendah.
j. Iklim Mikro
Iklim mikro merujuk kepada iklim di
suatu habitat kecil,misalnya iklim dalam tanah, iklim di bawah sebuah pohon
besar atau pada sebuah batu besar. Suhu, kelembaban dan dan intensitas cahaya
pada habitat kecil tadi berbeda dengan suhu, kelembaban dan intensitas cahaya
yang ada di sekitarnya. Setiap jenis makhluk hidup mencari habitat yang
mempunyai iklim mikro yang sesuai baginya.
2.4. Faktor Biotik
Komponen biotik dari lingkungan adalah
semua makhluk hidup yang terdapat pada suatu lingkungan ataupun ekosistem.
Komponen biotik ini digolongkan kedalam tiga kelompok yakni : produsen,
konsumen, dan pengurai ( dekomposer ). Tumbuhan hijau daun adalah produsen
karena mereka dapat mensintesa makanan ( karbohidarat ) dengan menggunakan CO2,
H2O,dan energi matahari dari melalui proses fotosintesa. Konsumen
adalah organisme-organisme yang memakan tumbuhan dan organisme yang lain.
Konsumen lebih lanjut dibedakan menjadi konsumen primer dan sekunder.
Konsumen primer adalah herbivor yang
secara langsung memakan tumbuhan, sedangkan konsumen sekunder adalah karnivor
yang secara langsung memakan konsumen primer.sedangkan konsumen tertier adalah
karnivir ataupun omnivor yang memakan konsumen sekunder.
Dekomposer adalah bakteri dan fungi
yang menguraikan tumbuhan dan hewan yang telah mati menjadi senyawa yang
sederhana
Faktor biotik
juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi,
komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup
tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi
membentuk suatu sistemyang menunjukkan kesatuan.
A.Individu
Individu
merupakan organisme tunggal seperti : seekor tikus, seekor kucing, sebatang
pohon jambu, sebatang pohon kelapa, dan seorang manusia. Dalam mempertahankan
hidup, seti jenis dihadapkan pada masalah-masalah hidup yang kritis. Misalnya,
seekor hewan harus mendapatkan makanan, mempertahankan diri terhadap musuh
alaminya, serta memelihara anaknya. Untuk mengatasi masalah tersebut, organisme
harus memiliki struktur khusus seperti : duri, sayap, kantung, atau tanduk.
Hewan juga memperlihatkan tingkah laku tertentu, seperti membuat sarang atau
melakukan migrasi yang jauh untuk mencari makanan. Struktur dan tingkah laku
demikian disebut adaptasi.
Ada
bermacam-macam adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya, yaitu: adaptasi
morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.
1. Adaptasi morfologi
Adaptasi
morfologi merupakan penyesuaian bentuk tubuh untuk kelangsungan hidupnya.
Contoh adaptasi morfologi, antara lain sebagai berikut.
a.Gigi-gigi khusus
Gigi hewan
karnivora atau pemakan daging beradaptasi menjadi empat gigi taring besar dan
runcing untuk menangkap mangsa, serta gigi geraham dengan ujung pemotong yang
tajam untuk mencabik-cabik mangsanya.
b. Moncong
Trenggiling
besar adalah hewan menyusui yang hidup di hutan rimba Amerika Tengah dan
Selatan. Makanan trenggiling adalah semut, rayap, dan serangga lain yang
merayap. Hewan ini mempunyai moncong panjang dengan ujung mulut kecil tak bergigi
dengan lubang berbentuk celah kecil untuk mengisap semut dari sarangnya. Hewan
ini mempunyai lidah panjang dan bergetah yangdapat dijulurkan jauh keluar mulut
untuk menangkap serangga.
c. Paruh
Elang memiliki
paruh yang kuat dengan rahang atas yang melengkung dan ujungnya tajam. Fungsi
paruh untuk mencengkeram korbannya. Perhatikan
d. Daun
Tumbuhan
insektivora (tumbuhan pemakan serangga), misalnya kantong semar, memiliki daun
yang berbentuk piala dengan permukaan dalam yang licin sehingga dapat menggelincirkan
serangga yang hinggap. Dengan enzim yang dimiliki tumbuhan insektivora,
serangga tersebut akan dilumatkan, sehingga tumbuhan ini memperoleh unsur yang
diperlukan.
e. Akar
Akar tumbuhan
gurun kuat dan panjang,berfungsi untuk menyerap air yang terdapat jauh di dalam
tanah. Sedangkan akar hawa pada tumbuhan bakau untuk bernapas.
2. Adaptasi fsiologi
Adaptasi
fisiologi merupakan penyesuaian fungsi fisiologi tubuh untuk mempertahankan
hidupnya. Contohnya adalah sebagai berikut.
a. Kelenjar
bau
Musang dapat mensekresikan bau
busukdengan cara menyemprotkan cairan melalui sisi lubang dubur. Sekret
tersebut berfungsi untuk menghindarkan diri dari musuhnya.
b. Kantong
tinta
Cumi-cumi dan
gurita memiliki kantong tinta yang berisi cairan hitam. Bila musuh datang,
tinta disemprotkan ke dalam air sekitarnya sehingga musuh tidak dapat melihat
kedudukan cumi-cumi dan gurita.
c. Mimikri pada kadal
Kulit kadal dapat berubah warna karena
pigmen yang dikandungnya. Perubahan warna ini dipengaruhi oleh faktor dalam
berupa hormon dan faktor luar berupa suhu serta keadaan sekitarnya.
3. Adaptasi tingkah laku
Adaptasi
tingkah laku merupakan adaptasi yang didasarkan pada tingkah laku. Contohnya
sebagai berikut :
a.Pura-pura tidur atau mati
Beberapa hewan
berpura-pura tidur atau mati, misalnya tupai Virginia. Hewan ini sering
berbaring tidak berdaya dengan mata tertutup bila didekati seekor anjing.
b.Migrasi
Ikan salem raja
di Amerika Utara melakukan migrasi untuk mencari tempat yang sesuai untuk
bertelur. Ikan ini hidup di laut. Setiap tahun, ikan salem dewasa yang berumur
empat sampai tujuh tahun berkumpul di teluk disepanjang Pantai Barat Amerika
Utara untuk menuju ke sungai. Saat di sungai, ikan salem jantan mengeluarkan
sperma di atas telur-telur ikan betinanya. Setelah itu ikan dewasa biasanya
mati. Telur yang telah menetas untuk sementara tinggal di air tawar. Setelah
menjadi lebih besar mereka bergerak ke bagian hilir dan akhirnya ke laut.
2.5Populasi
Populasi adalah sekelompok mahkluk
hidup dengan spesies yang sama, yang hidup di suatu wilayah yang sama dalam
kurun waktu yang sama pula. Misalnya semua rusa di Isle Royale membentuk suatu
populasi, begitu juga dengan pohon-pohon cemara. Ahli ekologi memastikan dan
menganalisa jumlah dan pertumbuhan dari populasi serta hubungan antara
masing-masing spesies dan kondisi-kondisilingkungan.
Faktor yang menentukan populasi :
Jumlah dari
suatu populasi tergantung pada pengaruh dua kekuatan dasar. Pertama adalah
jumlah yang sesuai bagi populasi untuk hidup dengan kondisi yang ideal. Kedua
adalah gabungan berbagai efek kondisi faktor lingkungan yang kurang ideal yang
membatasi pertumbuhan. Faktor-faktor yang membatasi diantaranya ketersediaan
jumlah makanan yang rendah, pemangsa, persaingan dengan mahkluk hidup sesama
spesies atau spesies lainnya, iklim dan penyakit.
Jumlah terbesar
dari populasi tertentu yang dapat didukung oleh lingkungan tertentu disebut
dengan kapasitas beban lingkungan untuk spesies tersebut. Populasi yang normal
biasanya lebih kecil dari kapasitas beban lingkungan bagi mereka disebabkan
oleh efek cuaca yang buruk, musim mengasuh bayi yang kurang bagus, perburuan oleh
predator, dan faktor-faktorlainnya.
Faktor-faktor yang merubah populasi:
Faktor-faktor yang merubah populasi:
Tingkat
populasi dari spesies bisa banyak berubah sepanjang waktu. Kadangkala perubahan
ini disebabkan oleh peristiwa-peristiwa alam. Misalnya perubahan curah hujan
bisa menyebabkan beberapa populasi meningkat sementara populasi lainnya terjadi
penurunan. Atau munculnya penyakit-penyakit baru secara tajam dapat menurunkan
populasi suatu spesies tanaman atau hewan. Sebagai contoh peralatan berat dan
mobil menghasilkan gas asam yang dilepas ke dalam atmosfer, yang bercampur
dengan awan Dan turun ke bumi sebagai hujan asam. Di beberapa wilayah yang
menerima hujan asam dalam jumlah besar populasi ikan menurun secara tajam.
2.6.Komunitas
Komunitas ialah
kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu
yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki
derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan
populasi.
Dalam komunitas, semua organisme
merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan
melalui keragaman interaksinya.
2.7. Ekosistem
Antara
komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini menciptakan
kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. Komponen penyusun ekosistem adalah
produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora), dan
dekomposer/pengurai (mikroorganisme).
Ekosistem adalah satu unit sistem alam
yang dibentuk oleh interaksi daripada tumbuhan dan hewan antara satu sama
lainnya dan juga dengan lingkungannya.
Sebuah
ekosistem adalah level paling kompleks dari sebuah organisasi alam. Ekosistem
terbentuk dari sebuah komunitas dan lingkungan abiotiknya seperti iklim, tanah,
air, udara, nutrien dan energi. Ahli ekologi sistem adalah mereka yang mencoba
menghubungkan bersama beberapa perbedaan aktifitas fisika dan biologi di dalam
suatu lingkungan. Penelitian mereka seringkali terfokus pada aliran energi dan
perputaran material-material yang ada di dalam sebuah ekosistem. Mereka
biasanya menggunakan komputer yang canggih untuk membantu memahami data-data
yang dikumpulkan dari penelitian di lapangan dan untuk memprediksi perkembangan
yang akan terjadi.
Aliran Energi
Para ahli
ekologi mengkategorikan elemen-elemen yang membentuk atau yang memberi efek
pada sebuah ekosistem menjadi 6 bagian utama berdasarkan para aliran energi dan
nutrien yang mengalir pada sistem:
1. Matahari
2. Bahan-bahan
abiotik
3. Produsen
4. Konsumen
Pertama
5. Konsumen
Kedua
6. Pengurai
Sebuah
ekosistem yang sederhana dapat digambarkan seperti berikut. Matahari
menyediakan energi yang hampir dibutuhkan semua produsen untuk membuat makanan.
Produsen terdiri dari tanaman-tanaman hijau seperti rumput dan pohon yang
membuat makanan melalui proses fotosintesis. Tanaman juga membutuhkan bahan-bahan
abiotik seperti air dan pospor untuk tumbuh. Yang termasuk konsumen pertama
diantaranya tikus, kelinci, belalang dan binatang pemakan tumbuhan lainnya.
Ular, macan dan konsumen kedua lainnya atau yang biasa disebut dengan predator
adalah pemakan binatang. Pengurai seperti jamur dan bakteri, menghancurkan
tanaman dan binatang yang telah mati menjadi nutrien-nutrien sederhana.
Nutrien-nutrien tersebut kembali ke dalam tanah dan digunakan kembali oleh
tanaman-tanaman.
Tingkatan-tingkatan
energi yang berkesinambungan yang berlangsung dalam bentuk makanan ini disebut
rantai makanan. Di dalam sebuah rantai makanan yang sederhana rumput adalah
produsen, konsumen pertama seperti kelinci memakan rumput. Kelinci selanjutnya
dimakan oleh konsumen kedua misalnya ular atau macan. Bakteri pengurai
menghancurkan sisa-sisa rumput yang mati, kelinci, ular, dan macan yang tidak
termakan, sama halnya seperti menghancurkan kotoran binatang.
Sebagian besar
ekosistem memiliki suatu variasi produsen, konsumen dan pengurai yang membentuk
sebuah rantai makanan yang saling tumpang tindih yang dinamakan jaringan
makanan. Jaringan-jaringan makanan terutama sekali terdapat di ekosistem
wilayah tropis dan ekosistem lautan.
Beberapa
spesies makan banyak jenis makanan tetapi ada juga yang membutuhkan makanan
yang khusus. Konsumen pertama seperti koala dan panda terutama makan satu jenis
tanaman. Makanan utama koala adalah eucalyptus dan makanan utama panda adalah
bambu. Jika tanaman-tanaman ini mati maka kedua binatang tersebut juga ikut mati.
Energi yang
berpindah melalui sebuah ekosistem berada dalam sebuah urutan transformasi.
Pertama produsen merubah sinar matahari menjadi energi kimia yang disimpan di
dalam protoplasma (sel-sel tumbuhan) di dalam tanaman. Selanjutnya konsumen
pertama memakan tanaman, merubah energi menjadi bentuk energi kimia yang
berbeda yang disimpan di dalam sel-sel tubuh. Energi ini berubah kembali ketika
konsumen kedua makan konsumen pertama.
Sebagian besar
organisme memiliki efisiensi ekologi yang rendah. Ini berarti mereka hanya
dapat merubah sedikit bagian dari energi yang tersedia bagi mereka untuk
disimpan menjadi energi kimia. Contohnya tanaman-tanaman hijau hanya dapat
merubah sekitar 0,1 hingga 1 % tenaga matahari yang mencapainya ke dalam
protoplasma. Sebagian besar energi yang tertangkap di bakar untuk pertumbuhan
tanaman dan lepas ke dalam lingkungan sebagai panas. Begitu juga herbivora atau
binatang pemakan tumbuhan dan karnivora binatang pemakan daging merubah energi
ke dalam sel-sel tubuh hanya sekitar 10 hingga 20 % dari energi yang dihasilkan
oleh makanan yang mereka makan.
Karena begitu
banyaknya energi yang lepas sebagai panas pada setiap langkah dari rantai
makanan, semua ekosistem mengembangkan sebuah piramida energi. Tanaman sebagai
produsen menempati bagian dasar piramid, herbivora (konsumen pertama) membentuk
bagian berikutnya, dan karnivora (komsumen kedua) membentuk puncak piramida.
Piramid tersebut mencerminkan kenyataan bahwa banyak energi yang melewati
tanaman dibandingkan dengan herbivora, dan lebih banyak yang melalui herbivora
dibandingkan dengan karnivora.
Di dalam
ekosistem-ekosistem daratan piramida energi tersebut menghasilkan sebuah
piramida biomasa (berat). Ini berarti bahwa berat total dari tanaman-tanaman
adalah lebih besar dibandingkan dengan berat total herbivora yang melampaui
berat total karnivora. Tetapi di dalam lautan biomasa (berat) tanaman-tanaman
dan binatang-binatang adalah sama.
Ahli-ahli
ekologi mengumpulkan informasi pada sebuah piramida biomasa pada Isle Royale. Mereka
meneliti hubungan piramida diantara tanaman, rusa dan serigala. Dalam sebuah
penelitian mereka menemukan bahwa diperlukan tanaman seberat 346 kg untuk
makanan rusa seberat 27 kg. Rusa seberat inilah yang diperlukan untuk makanan
serigala seberat 0,45 kg.
2.8. Ekologi dan Lingkungan Hidup
Ekologi sangat
berhubungan erat kaitannya dengan lingkungan hidup. Apabila lingkungan hidup
tidak seimbang, tentunya ekologi maupun ekosistem tidak akan berjalan dengan
sempurna.
Oleh sebab itu,
umat manusia melakukan suatu program untuk menyelamatkan linkungan hidup.
Dengan ditetapkannya hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada tanggal 5
Juni, orang-orang akan semakin paham betapa pentingnya lingkungan hidup bagi
kita semua.
Apakah kita
pernah tersadar dimanakah kita sekarang ini? Kita sebagai manusia hidup di Bumi
mulai dari lahir, kecil, beranjak dewasa, sampai kita meninggal. Kita sangat
berhutang budi pada Bumi, planet tempat tinggal kita yang tercinta ini. Tetapi,
berapa banyak kita telah mengotori Bumi, merusak Bumi, dan membuat Bumi ini
menjadi tidak indah lagi? Kadang-kadang kita tidak sadar bahwa perbuatan kita
sangat merusak Bumi dan terkesan tidak berterima kasih pada Bumi yang telah
berjasa banyak pada Bumi.
Dulu, Indonesia
dikenal sebagai sebuah negeri yang subur. Negeri kepulauan yang membentang di
sepanjang garis katulistiwa yang ditamsilkan ibarat untaian zamrud berkilauan
sehingga membuat para penghuninya merasa tenang, nyaman, damai, dan makmur.
Tanaman apa saja bisa tumbuh di sana. Bahkan, tongkat dan kayu pun, menurut
versi Koes Plus, bisa tumbuh jadi tanaman yang subur.
Namun, seiring dengan berkembangnya
peradaban umat manusia, Indonesia tidak lagi nyaman untuk dihuni. Tanahnya jadi
gersang dan tandus. Jangankan tongkat dan kayu, bibit unggul pun gagal tumbuh
di Indonesia. Yang lebih menyedihkan, dari tahun ke tahun, Indonesia hanya
menuai bencana. Banjir bandang, tanah longsor, tsunami, atau kekeringan
seolah-olah sudah menjadi fenomena tahunan yang terus dan terus terjadi.
Sementara itu, pembalakan hutan, perburuan satwa liar, pembakaran hutan,
penebangan liar, bahkan juga illegal loging (nyaris) tak pernah luput
dari agenda para perusak lingkungan. Ironisnya, para elite negeri ini
seolah-olah menutup mata bahwa ulah manusia yang bertindak sewenang-wenang
dalam memperlakukan lingkungan hidup bisa menjadi ancaman yang terus mengintai
setiap saat.
Mengapa bencana demi bencana terus
terjadi? Bukankah negeri ini sudah memiliki perangkat hukum yang jelas mengenai
Pengelolaan Lingkungan Hidup? Bukankah
Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Pendidikan Nasional telah membangun kesepakatan bersama tentang
pendidikan lingkungan hidup? Namun, mengapa korban-korban masih
terus berjatuhan akibat rusaknya lingkungan yang sudah berada pada titik nadir?
Siapa yang mesti bertanggung jawab ketika bumi ini tidak lagi bersikap ramah
terhadap penghuninya? Siapa yang harus disalahkan ketika bencana dan musibah
datang beruntun menelan korban orang-orang tak berdosa?
Saat ini agaknya (nyaris) tidak ada lagi tanah di Indonesia
yang nyaman bagi tanaman untuk tumbuh dengan subur dan lebat. Mulai
pelosok-pelosok dusun hingga perkotaan hanya menyisakan celah-celah tanah
kerontang yang gersang, tandus, dan garang. Di pelosok-pelosok dusun,
berhektar-hektar hutan telah gundul, terbakar, dan terbabat habis sehingga tak
ada tempat lagi untuk resapan air. Satwa liar pun telah kehilangan habitatnya.
Sementara itu, di perkotaan telah tumbuh cerobong-cerobong asap yang ditanam
kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya
terhadap lingkungan. Polusi tanah, air, dan udara benar-benar telah mengepung
masyarakat perkotaan sehingga tak ada tempat lagi untuk bisa bernapas dengan
bebas dan leluasa. Limbah rumah tangga dan industri makin memperparah kondisi
tanah dan air di daerah perkotaan sehingga menjadi sarang yang nyaman bagi
berbagai jenis penyakit yang bisa mengancam keselamatan manusia di sekitarnya.
Sebenarnya
kita bisa banyak belajar dari kearifan lokal nenek moyang kita tentang
bagaimana cara memperlakukan lingkungan dengan baik dan bersahabat. Meski
secara teoretis mereka buta pengetahuan, tetapi di tingkat praksis mereka mampu
membaca tanda-tanda dan gejala alam melalui kepekaan intuitifnya. Masyarakat Papua, misalnya, memiliki budaya dan adat istiadat lokal yang
lebih mengedepankan keharmonisan dengan alam. Mereka pantang melakukan
perusakan terhadap alam karena dinilai bisa menjadi ancaman besar bagi budaya
mereka. Alam bukan hanya sumber kehidupan, melainkan juga sahabat dan guru yang
telah mengajarkan banyak hal bagi mereka. Dari alam mereka menemukan falsafah
hidup, membangun religiositas dan pola hidup seperti yang mereka anut hingga
kini. Memanfaatkan alam tanpa mempertimbangkan eksistensi budaya setempat tidak
beda dengan penjajahan. Namun, sejak kedatangan PT Freeport Indonesia,
keharmonisan hubungan masyarakat Papua dengan alam jadi berubah. Saya kira
masih banyak contoh kearifan lokal di daerah lain yang sarat dengan pesan-pesan
moral bagaimana memperlakukan lingkungan dengan baik.
Namun, berbagai peristiwa tragis akibat parahnya kerusakan
lingkungan sudah telanjur terjadi. “Membangun tanpa merusak lingkungan”
yang dulu pernah gencar digembar-gemborkan pun hanya slogan belaka.
Realisasinya, atas nama pembangunan, penggusuran lahan dan pembabatan hutan
terus berlangsung. Sementara itu, hukum pun makin tak berdaya menghadapi para
“bromocorah” lingkungan hidup yang nyata-nyata telah menyengsarakan jutaan umat
manusia. Para investor yang nyata-nyata telah membutakan mata dan tidak
menghargai kearifan lokal masyarakat setempat justru dianggap sebagai
“pahlawan” lantaran telah mampu mendongkrak devisa negara dalam upaya mengejar
pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa.
Meskipun demikian, hanya mencari
“kambing hitam” siapa yang bersalah dan siapa yang mesti bertanggung jawab
terhadap kerusakan lingkungan hidup bukanlah cara yang arif dan bijak.
Lingkungan hidup merupakan persoalan kolektif yang membutuhkan partisipasi
semua komponen bangsa untuk mengurus dan mengelolanya. Pemerintah, tokoh-tokoh
masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), semua warga masyarakat, dan
komponen bangsa yang lain harus memiliki “kemauan politik” untuk bersama-sama
menjaga kelestarian lingkungan hidup dari ulah tangan jahil para preman dan
penjahat lingkungan. Hal itu harus dibarengi dengan tindakan hukum yang tegas
terhadap pelaku kejahatan lingkungan hidup yang nyata-nyata telah terbukti
menyengsarakan banyak umat manusia. Pedang hukum harus benar-benar mampu
memancung dan memenggal kepala para penjahat lingkungan hidup untuk memberikan
efek jera dan sekaligus memberikan pelajaran bagi yang lain.
Yang tidak kalah penting, harus ada
upaya serius untuk membudayakan cinta lingkungan hidup melalui dunia
pendidikan. Institusi pendidikan, menurut hemat saya, harus menjadi benteng
yang tangguh untuk menginternalisasi dan menanamkan nilai-nilai budaya cinta
lingkungan hidup kepada anak-anak bangsa yang kini tengah gencar menuntut ilmu.
Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat perlu terus digali dan
dikembangkan secara kontekstual untuk selanjutnya disemaikan ke dalam dunia pendidikan
melalui proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan. Pola dan gaya penyajiannya pun tidak bercorak teoretis dan
dogmatis seperti orang berkhotbah, tetapi harus lebih interaktif dan dialogis
dengan mengajak siswa didik untuk berdiskusi dan bercurah pikir melalui
topik-topik lingkungan hidup yang menarik dan menantang.
Lingkungan hidup yang disemaikan
melalui dunia pendidikan tidak harus menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi
disajikan lintas mata pelajaran melalui pokok-pokok bahasan yang relevan.
Dengan kata lain, lingkungan hidup tidak cukup hanya menjadi tanggung jawab
guru Geografi atau IPA saja, misalnya, tetapi harus menjadi tanggung jawab
semua guru mata pelajaran.
Mengapa budaya cinta lingkungan hidup
ini penting dikembangkan melalui dunia pendidikan? Ya, karena jutaan anak
bangsa kini tengah gencar menuntut ilmu di bangku pendidikan. Merekalah yang
kelak akan menjadi penentu kebijakan mengenai penanganan dan pengelolaan
lingkungan hidup yang baik. Menanamkan nilai-nilai budaya cinta lingkungan
hidup kepada anak-anak bangsa melalui bangku pendidikan sama saja menyelamatkan
lingkungan hidup dari kerusakan yang makin parah. Dan itu harus dimulai
sekarang juga. Depdiknas yang memiliki wewenang untuk menentukan kebijakan
harus secepatnya “menjemput bola” agar dunia pendidikan kita mampu melahirkan
generasi masa depan yang sadar lingkungan dan memiliki kepekaan terhadap
persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsanya.
Dengan diadakannya hariligkungan hidup
sedunia ini, diharapkan agar seluruh lapisan masyarakat dapat lebih paham
betapa pentingnya lingkungan hidup ini bagi kita dan juga agar ekosistem yang
ada di muka bumi ini tidak terganggu.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Ekologi merupakan ilmu yang
mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang
lainnya.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi ekologi adalah faktor dari abiotik maupun faktor biotik.
Faktor abiotik adalah komponen yang tidak hidup dalam ekosistem. Komponen
abiotik dalam ekosistem mencakup faktor-faktor fisik, seperti suhu, cahaya
matahari atau intensitas cahaya, air, tanah, ketinggian, angin, garis lintang,
kelembaban, topografi dan iklim mikro.
Faktor biotik adalah semua makhluk
hidup yang terdapat pada suatu lingkungan ataupun ekosistem. Komponen biotik
ini digolongkan kedalam tiga kelompok yakni : produsen, konsumen, dan pengurai
( dekomposer ).
Populasi adalah sekelompok mahkluk
hidup dengan spesies yang sama, yang hidup di suatu wilayah yang sama dalam kurun
waktu yang sama pula.
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai
populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling
berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain.
Antara
komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini menciptakan
kesatuan ekologi, yang disebut dengan ekosistem. Ekosistem terbentuk dari
sebuah komunitas dan lingkungan abiotiknya seperti iklim, tanah, air, udara,
nutrien dan energi. Jadi, ekosistem adalah satu unit sistem alam yang dibentuk
oleh interaksi daripada tumbuhan dan hewan antara satu sama lainnya dan juga
dengan lingkungannya.
Ekosistem juga memiliki hubungan yang
erat dengan lingkungan hidup. Apabila lingkungan hidup tidak seimbang tentu
saja ekosistem akan terganggu kelestariannya.
Oleh sebab itu dengan diadakannya hari
lingkungan hidup sedunia, masyarakat akan semakin paham lingkungan hidup ini
bagi kta dan juga keberlangsungannya ekosistem di muka bumi ini.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, dkk.
1996. Biologi Jilid 3. jakarta : Erlangga
Team Teaching.
2008. Biologi Umum. Medan : FMIPA UNIMED
Tim Dosen.
2009. Biologi Umum 2. Medan : FMIPA UNIMED
Riberu,
Paskalis. 2002. Jurnal Pembelajaran Ekologi.-

0 Comment for "Makalah Meteorologi dan Klimatologi"